cara mendidik anak dengan benar
Saya juga tidak belajar banyak teori bagaimana pola mendididk anak yang terbaik. Saya hanya belajar dari pengalaman. Setidaknya terjun dalam dunia pendidiakan non-formal di tingkat anak-anak SD, SMP membuat saya banyak belajar bagaimana seharusnya kita memperlakukan anak-anak.
Dunia anak adalah dunia bermain. Jadi para orangtua dan pendidik tidak boleh saklek menuntut anaknya, “kamu harus belajar, supaya dapat rangking!”. Menurut saya keinginan anak bermain harus diakomodasi. Bukan memanjakan, namun sebuah taktik (strategi) mencapai cita-cita keberhasilan. Hasil penelitian The Association for Chilhood Education International Amerika Serikat menyebutkan, bermain adalah alat utama untuk perkembangan imajinasi, kecerdasan, bahasa, dan kemampuan motorik (“perceptual motor”) pada bayi dan anak-anak kecil (Frost, 1992) - (Kompas, 6 Mei 2007)
Dalam catatan pengalaman saya, anak-anak (adik-adik) cukup dekat dengan saya, meski ini perlu proses. Namun yang saya garis bawahi dari laporan rekan-rekan yang lain; mereka merasa didengar, saya seperti teman bagi mereka; memang untuk ini saya harus kembali ke usia anak-anak. Ketika saya berhadapan dengan anak-anak usia 5-15 saya harus menjadi diri mereka di usianya. Jadi aneh rasanya saya yang udah seusia ini, masih ikut bermain-main dengan anak-anak.
Tapi itulah kuncinya. Dengan hubungan yang baik dan perasaan riang di hati mereka sudah jadi modal awal untuk bisa meng-input mereka dengan nilai-nilai, pelajaran-pelajaran. Bahkan mereka jadi semakin bersemangat belajar tanpa sebuah paksaaan.
Saya juga tidak belajar banyak teori bagaimana pola mendididk anak yang terbaik. Saya hanya belajar dari pengalaman. Setidaknya terjun dalam dunia pendidiakan non-formal di tingkat anak-anak SD, SMP membuat saya banyak belajar bagaimana seharusnya kita memperlakukan anak-anak.
Dunia anak adalah dunia bermain. Jadi para orangtua dan pendidik tidak boleh saklek menuntut anaknya, “kamu harus belajar, supaya dapat rangking!”. Menurut saya keinginan anak bermain harus diakomodasi. Bukan memanjakan, namun sebuah taktik (strategi) mencapai cita-cita keberhasilan. Hasil penelitian The Association for Chilhood Education International Amerika Serikat menyebutkan, bermain adalah alat utama untuk perkembangan imajinasi, kecerdasan, bahasa, dan kemampuan motorik (“perceptual motor”) pada bayi dan anak-anak kecil (Frost, 1992) - (Kompas, 6 Mei 2007)
Dalam catatan pengalaman saya, anak-anak (adik-adik) cukup dekat dengan saya, meski ini perlu proses. Namun yang saya garis bawahi dari laporan rekan-rekan yang lain; mereka merasa didengar, saya seperti teman bagi mereka; memang untuk ini saya harus kembali ke usia anak-anak. Ketika saya berhadapan dengan anak-anak usia 5-15 saya harus menjadi diri mereka di usianya. Jadi aneh rasanya saya yang udah seusia ini, masih ikut bermain-main dengan anak-anak.
Tapi itulah kuncinya. Dengan hubungan yang baik dan perasaan riang di hati mereka sudah jadi modal awal untuk bisa meng-input mereka dengan nilai-nilai, pelajaran-pelajaran. Bahkan mereka jadi semakin bersemangat belajar tanpa sebuah paksaaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar